Sabtu, 18 Desember 2010

Perkembangan Emosi Pada Masa Anak-Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keadaan emosi dalam masa kanak-kanak akhir berbeda dengan masa kanak-kanak awal. Baik dalam macam situasi yang menimbulkan bentuk emosi tertentu, maupun cara memberikan respon tehadap emosi yang dialaminya itu. Perubahan-perubahan tersebut di atas disebabkan karena pengalamannya yang lebih luas dan dengan demikian dia mempelajari reaksi-reakisi lain. Oleh karena pengalaman itu, anak-anak akhir mengetahui bahwa ada cara-cara menyatakan emosi yang tidak disenangi oleh orang lain / masyarakat. Dan oleh karena ia ingin disenangi oleh masyarakat, maka dia berusaha untuk tidak memberikan reaksi-reaksi yang tidak disenangi oleh orang lain.
Hubungan antara anak-anak akhir dengan orang lain seperti ayah, ibu, saudara, teman sebaya serta guru akan memberi pengaruh pada perkembangan emosi anak. Pada saat anak berinteraksi dengan keluarga maka akan mempengaruhi interaksi anak di luar rumah, apabila kebutuhan emosi anak tidak dapat terpenuh. Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk membahas dan menganalisa tentang perkembangan emosi pada masa kanak-kanak akhir.

B. Rumusan Masalah
1. Batasan tentang masa kanak-kanak akhir
2. Teori tentang perkembangan emosi
3. Gambaran tentang perkembangan emosi pada masa kanak-kanak akhir












BAB II
PEMBAHASAN

A. Batasan Tentang Masa Kanak-Kanak Akhir
Masa Kanak-kanak Akhir (Later Chilhood).
Akhir masa kanak-kanak atau masa anak sekolah ini berlangsung dari umur 6 tahun sampai umur 12 tahun. Kohnstam menamakan masa kanak-kanak akhir atau masa anak sekolah ini dengan masa intelektual, dimana anak-anak telah siap untuk mendapatkan pendidikan di sekolah dan perkembangannya berpusat pada aspek intelek. Adapun Erikson menekankan masa ini sebagai masa timbulnya “sense of accomplishment” di mana anak-anak pada masa ini merasa siap untuk menerima tuntutan yang dapat timbul dari orang lain dan melaksanakan/menyelesaikan tuntutan itu. Kondisi inilah kiranya yang menjadikan anak-anak masa ini memasuki masa keserasian untuk bersekolah.
Akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari enam tahun sampai sepuluh tahun sampai dengan anak mengalami kematangan seksual yaitu sekitar tiga belas tahun bagi anak perempuan dan empat belas tahun agi anak laki-laki, oleh oang tua disebut sebagai “usia yang menyulitkan”, tidak rapi, atau “usia bertengkar”, oleh para pendidik disebut sebagai “usia berkelompok”, “usia penyesuaian”, atau “usia kreatif”. Pertumbuhan fisik/emosi yang lambat pada ahir masa kanak-kanak dipengaruhi oleh kesehatan, gizi, imunisasi, sex, dan intelegensi .
Keterampilan pada akhir masa kanak-kanak secara kasar dapat digolongkan kedalam empat kelompok besar yaitu keterampilan menolong diri, keterampilan menolong social, keterampilan sekolah, dan keterampilan bermain. Sampai dengan tingkat tertentu semua keterampilan ini depebngaruhi oleh perkembangan pilihan penggunaan tangan.
Semua bidang dalam berbicara, ucapan, kosakata, dan strukutur kalimat berkembang pesat seperti halnya pengertian, namun isi pembicaraan cenderung merosot. Anak yang lebih besar mengendalikan ungkapan-ugkapan emosi secara terbuka dan menggunakan katarsis emosi untuk meredakan diri dari emosi-emosi yang terkekang sebagai akibat dari tekanan sosial untuk mengendalikan emosinya

B. Teori Tentang Perkembangan Emosi
1. Pengertian Emosi
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau perasaan tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai / perbuatan-perbuatan kita sehari-hari itu. disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja.
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Jadi, sukar sekali kita mendefinisikan emosi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang (mendalam).
Banyak definisi tentang emosi yang dikemukakan oleh para ahli. Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995) seorang pakar kecerdasan emosional makna tepatnya masih sangat membingungkan, baik dikalangan para ahli psikologi maupun ahli filsafat dalam kurun waktu selama lebih dari satu abad. Karena sedemikian membingungkannya maka Daniel Golemen dalam mendifinisikan emosi merujuk kepada makna yang paling harfiah yang diambil dari Oxford English Dictionary yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang meluap-luap. Lebih lanjut Daniel Golemen mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan seringkali kecenderungan untuk bertindak .
Sementara itu, Chaplin (1989) dalam Dictinonary of Psychology mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin membedakan emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diartikan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.
Soegarta Poerbakawatja (1982) menyatakan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang eksternal
Drever (1986) mengartikan emosi sebagai suatu keadaan yang kompleks dari organisme yang menyangkut perubahan jasmani yang luas sifatnya (dalam pernafasan, denyut, sekresi kelenjar, dan sebagainya) dan pada sisi kejiwaan, suatu keadaan terangsang yang ditandai oleh perasaan yang kuat dan biasanya merupakan suatu dorongan ke arah suatu bentuk tingkah laku tertentu. Suatu bias kecenderungan, yang disebabkan attitude (sikap), yang emosional dalam melihat atau mengartikan emosi sebagai suatu keadaan yang kompleks dari organisme yang menyangkut perubahan jasmani yang luas sifatnya (dalam pernafasan, denyut, sekresi kelenjar, dan sebagainya) dan pada sisi kejiwaan, suatu keadaan terangsang yang ditandai oleh perasaan yang kuat dan biasanya merupakan suatu dorongan ke arah suatu bentuk tingkah laku tertentu. Emosional menurut Drever merupakan istilah yang dipakai dalam pengertian semi teknis untuk :
1. Suatu bias kecenderungan, yang disebabkan attitude (sikap), yang emosional dalam melihat atau menafsirkan fakta.
2. Expression, yang menunjukkan berbagai perubahan motor dan kelenjar yang menyertai rangsangan emosi, terutama yang menimbulkan suatu gambaran yang sedikit banyak bersifat khusus dan dapat diamati dari luar.
3. Pattern (pola) dalam pengertian yang praktis sama, akan tetapi dengan tekanan khusus pada pengelompokkan riil dari reaksi motor dan kelenjar.enafsirkan fakta.

2. Teori-Teori Emosi
Emosi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak awal, kemudian diwariskan secara genetis kedada penerusnya dan terus diperkaya oleh pengalaman-pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan. Apa yang dirasakan manusia dalam varian emosi dan ekspresinya telah dipelajari oleh para ilmuwan, khususnya yang berkecimpung dibidang tingkah laku manusia.
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi. Pendapat yang nativistik mengatakan bahwa emosi-emosi itu pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir, sedangkan pendapat yang empiristik mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.
a. Teori Rene Descartes
Salah satu penganut paham nativistik adalah Rene Descartes (1596-1650). la mengatakan bahwa manusia sejak lahirnya telah mempunyai enam emosi dasar yaitu : cinta, kegembiraan, keinginan, benci, sedih dan kagum.
b. Teori James-Lange
Di pihak kaum empiristik dapat kita catat nama-nama William-James (1842-1910, Amerika Serikat) dan Carl Lange (Denmark) Kedua orang ini menyusun suatu teori tentang emosi yang dinama-kan teori James-Lange. Menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap pembahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respons terhadap rangsang-rangsang yang datang dari luar. Jadi, kalau seorang misalnya melihat seekor harimau, maka reaksinya adalah darah makin cepat beredar karena denyut jantung makin cepat, paru-paru pun lebih cepat memompa udara dan sebagainya. Respons-respons tubuh ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa takut. Jadi, orang itu bukan berdebar-debar karena takut setelah melihat harimau melainkan karena ia berdebar-debar maka timbul rasa takut. Mengapa rasa takut yang timbul, ini disebabkan oleh hasil pengalaman dan proses belajar. Orang yang bersangkutan dari pengalamannya telah mengetahui bahwa harimau adalah makhluk yang berbahaya karena itu debaran jantung dipersepsikan sebagai takut .
c. Teori Wilhelm Wundt
Tokoh empiris lain yang mengemukakan teori emosi adalah Wilhelm Wundt (1832 – 1920). Tetapi berbeda dari W. James yang menyelidiki mengapa timbul emosi, W. Wundt menguraikan jenis-jenis emosi.
Menurut Wundt ada tiga pasang kutub emosi, yaitu :
1. Senang – tak senang, 2. Tegang – tak tegang. 3. Semangat – tenang
d. Teori Cannon-Bard
Walfer Bradford Cannon, psikolog Amerika Serikat menolak teori James-Lange yang lebih dahulu populer. Kepada contoh harimau lepas tadi. Pertama ia menstimulasi sistem syaraf otonom (autonomic nervous system) untuk memproduksi atau mengaktifkan perubahan-perubahan fisiologis, seperti meningkatnya degup jantung, napas yang cepat, dan sebagainya. Kedua hipothalanus mengirim pesan ke cerebral cortex dimana pengalaman emosi dirasakan.
Teori Cannon-Bard menjelaskan bahwa persepsi terhadap objek yang dapat menimbulkan emosi diproses secara simultan oleh dua instansi yakni sistem syaraf otonom dan cerebral cortex.
e. Teori Schachter Singer
Teori ini meyakini bahwa emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis. Setiap pengalaman yang membangkitkan emosi akan diberi label didalam peta kognitif. Label-label itu kemudian dijadikan pola bagi pengalamn-pengalaman baru. Setiap stimulus yang diterima akan dinilai berdasarkan label yang telah disimpan.

C. Gambaran Tentang Perkembangan Emosi Pada Masa Kanak-Kanak Akhir
Keadaan emosi dalam masa kanak-kanak akhir berbeda dengan dalam masa kanak-kanak awal dalam dua hal ialah :
1. Macam situasi yang menimbulkan bentuk emosi tertentu.
2. Cara memberikan respon tehadap emosi yang dialaminya itu.
Perubahan-perubahan tersebut di atas disebabkan karena pengalamannya yang lebih luas dan dengan demikian dia mempelajari reaksi-reakisi lain. Oleh karena pengalaman itu, anak mengetahui bahwa ada cara-cara menyatakan emosi yang tidak disenangi oleh masyarakat. Dan oleh karena ia ingin disenangi oleh masyarakat, maka dia berusaha untuk tidak memberikan reaksi-reaksi yang tidak disenangi oleh orang lain.
Beberapa bentuk emosi dalam masa kanak-kanak akhir :
1. Marah
Dalam masa ini terdapat lebih banyak keadaan yang dapat menimbulkan rasa marah daripada dalam masa sebelumnya jadi di waktu anak masih lebih muda. Hal ini disebabkan oleh karena dia lebih besar keinginannya akan kebebasan diri. Bilamana terhalang untuk mendapatkan hal tersebut, makan rasa marah anak akan timbul.
Hal-hal lain yang menimbulkan rasa marah adalah antara lain bilamana anak :
1. Diganggu sewaktu mengerjakan sutau hal.
2. Senantiasa diktitik (dikecam).
3. Dibandingkan dengan anak lain dengan menjelek-jelekannya.
4. Terus-menerus diberi nasehat.
5. Dimarahi atau dihukum ketika dia mengerjakan suatu hal, akan tetapi sebenarnya tidak ia kerjakan.
6. Melihat seseorang mengerjakan suatau hal yang tidak jujur atau mengganggu orang lain.
7. Tidak mencapai tujuannya. Hal ini terjadi oleh karena anak menempatkan cita-citanya terlalu tinggi daripada kemampuannya.
Cara-cara anak menyatakan rasa marah antara lain sebagai berikut :
- Tidak mau berbicara.
- Menentang.
- Mencari sebab untuk bertengkar.
- Memukul.
2. Takut
Banyak sebab-sebab yang menimbulkan rasa takut pada masa kanak-kanak akhir. beberapa hal yang paling sering menimbulkan rasa takut pada masa ini adalah antara lain
- Kegelapan.
- Dokter, dokter gigi.
- Digigit anjing dsb.
Anak pada masa ini lebih sering merasa takut yang disebabkan oleh hal-hal yang timbul dalam fantasinya daripada hal-hal yang nyata. Misalnya : dalam gelap mereka selalu membayangkan adanya bayangan-bayangan yang menakutkan. Rasa malu, yang merupakan rasa takut dalam masa kanak-kanak awal.
Cara-cara menyatakan rasa malu adalah sebagi berikut :
- Menarik hidung.
- Menarik-narik telinga.
- Menarik-narik pakaian.
- Beralih berdirinya dari kaki yang satu ke kaki yang lain dsb.
3. Cemas
Rasa cemas yang merupakan ras takut yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak benar-benar atau pasti ada, akan tetapi dibayangkan saja, mulai timbul pada periode ini. Hal-hal yang sering menimbulkan rasa cemas adalah sebagi berikut :
1. Problem-problem di sekolah seperti gagal dalam suatu test, datang terlambat, tidak naik kelas dsb.
2. Problem-problem di dalam keluarga seperti menyesuaikan dengan kehendak orang tua, dengan saudara-saudara dsb.
4. Rasa iri hati (Jealousy)
Kadang-kadang ras iri hati pada sudaranya dalam periode ini lebih mendalam karena anak merasa bahwa adik-adiknya lebih banyak berada di dekat ibunya. Dia harus bersekolah dan adiknya tidak. Jadi pada waktu sekolah, perhatian ibu tercurah pada adiknya sedang dia terpaksa berada dengan orang-orang yang asing baginya. Anak yang lebih besar terkadang juga merasa iri dengan teman-teman yang lebih populer atau yang lebih baik darinya dalam hal olah raga, pelajaran. atau keteramapilan lain.
Cara menyatakan iri hati yaitu sebagai berikut :
- Bertengkar.
- Membicarakan orang atau anak yang menimbulkan rasa iri hatinya.
- Mentertawakan orang atau anak yang menimbulkan rasa iri hatinya.
- Mengganggu orang atau anak yang menimbulkan rasa iri hatinya.
- Tidak mau menyapa.
- Memberikan komentar yang sarkatis (menghina).
5. Rasa ingin tahu
Pada umumnya rasa ingin tahu pada anak-anak akhir, pada masa ini tidak demikian kuat, karena dia sudah lebih mengenal sekitarnya. Hal-hal yang sekarang menarik perhatiannya adalah hal-hal yang dahulu tidak boleh didekatinya seperti korek api, kompor, mobil dan mesinnya dsb.
Cara-cara menyatakan rasa ingin tahunya andalah sebagai berikut :
1. Memeriksa hal-hal yang menimbulkan rasa ingin tahunya.
2. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang menimbulkan rasa ingin tahunya.
3. Jika anak sudah dapat membaca, dia banyak membaca tentang hal-hal yang ingin diketahuinya.
5. Rasa kasih sayang
Anak pada masa ini tidak senang menyatakan rasa kasih sayang pada siapapun juga. Terutama anak laki-laki sama sekali tidak senang dicium atau ditimang-timang.
Cara-cara menyatakan rasa kasih sayangt adalah sebagai berikut :
- Ingin selalu berada di dekat orang yang disayanginya.
- Membantu orang yang disayanginya.
6. Rasa gembira
Hal-hal yang menyebabkannya adalah sama dengan dalam masa kanak-kanak awal. Cara menyatakannya adalah sama dengan masa kanak-kanak awal, akan tetapi anak-anak dalam masa ini lebih tenang. Anak laki-laki memukul temannya di punggung atau kepalanya, jika mereka sangat gembira. Anak perempuan merangkul dan mencium temannya bilaman sangat gembira.
Hal periode dimana emosionalitasnya dipertinggi. Pada waktu anak masuk sekolah, dia lebih emosional dari biasanya, oleh karena dia harus mengadakan penyesuaian-penyesuaian baru. Setelah anak dapat mengadakan penyesuaian dengan keadaan di sekolah secara baik, maka emosi yang dipertinggi akan hilang lagi dan anak mengalami ketenangan kembali.

Ciri Khas Emosi Anak-Anak Akhir
Pada umumnya emosi pada anak itu bisa konkrit dan bisa abstrak. Emosi yang konkrit berkisar pada hal-hal yang bisa diraba seperti orang dan benda. Adapun emosi yang abstrak terpusat pada pengertian seperti cinta akan keindahan, cinta harga diri, benci kepada aniaya. Adapun emosi yang konkrit mungkin saja orang perorangan atau kelompok. Emosi perorang berkisar pada oknum seperti cinta anak kepada kucing, atau cintanya terhadap orang yang ada dirumahnya. Adapun emosi kelompok sumbernya tidaklah orang tetapi kelompok. Ada anak yang mencintai kucing secara umum, dan membenci anjing secara umum pula .
Adanya pengaruh faktor pematangan dan faktor belajar terhadap perkembangan emosi menyebabkan emosi anak-anak akhir seringkali sangat berbeda dari orang dewasa. Orang dewasa yang belum memahami hal ini cenderung menganggap anak sebagai tidak matang. Sangat tidak logis bila orang dewasa menuntut agar semua anak pada usia tertentu mempunyai pola emosi yang sama. Perbedaan individu tidak dapat dielakkan, karena adanya perbedaan taraf pematangan dan kesempatan belajar. Terlepas dari adanya perbedaan individu, ciri khas emosi anak membuatnya berbeda dari emosi orang dewasa. Ciri khas tersebut antara lain :
1. Emosi yang kuat
Anak bereaksi dengan intesitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius. Anak pra remaja bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang tampaknya bagi orang dewasa merupakan soal sepele.
2. Emosi seringkali tampak
Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi yang meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukuman, sehingga mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka akan berusaha mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.
3. Emosi bersifat sementara
Peralihan yang cepat pada anak-anak dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor, yaitu :
1. Membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang.
2. Kekurang sempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidak matangan intelektual dan pengalaman yang terbatas.
3. Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, maka emosi mereka menjadi lebih menetap.
4. Reaksi mencerminkan individualitas
Semua bayi yang baru lahir mempunyai pola reaksi yang sama. Secara bertahap dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak lainnya lagi mungkin akan bersembunyi di belakang kursi atau di balik punggung seseorang.
5. Emosi berubah kekuatannya
Dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat. Variasi ini sebagian disebabkan oleh perubahan dorongan, sebagian oleh perkembangan intelektual, dan sebagian lagi oleh perubahan minat dan nilai.
6. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku
Anak-anak mungkin tidak memperlihatkan reaksi emosional mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkannya secara tidak langsung melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup, seperti menggigit kuku dan mengisap jempol.

Kondisi yang Ikut Mempengaruhi Emosi Dominan
• Kondisi Kesehatan
Kesehatan yang baik mendorong emosi yang menyenangkan menjadi dominan, sedangkan kesehatan yang buruk menyebabkan emosi yang tidak menyenangkan menjadi dominan.
• Suasana Rumah
Jika anak-anak tumbuh dalam lingkungan rumah yang lebih banyak berisi kebahagiaan dan apabila pertengkaran, kecemburuan, dendam, dan perasaan lain.
BAB II
PENUTUP

1. Akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari enam tahun sampai sepuluh tahun sampai dengan anak mengalami kematangan seksual yaitu sekitar tiga belas tahun bagi anak perempuan dan empat belas tahun agi anak laki-laki, oleh oang tua disebut sebagai “usia yang menyulitkan”, “tidak rapi”, atau “usia bertengkar”, oleh para pendidik disebut sebagai “usia berkelompok”, “usia penyesuaian”, atau “usia kreatif”.
2. Banyak sekali teori-teori yang menjelaskan tentang emosi yang dikemukakan oleh para ahli. Rene Descartes mengatakan bahwa manusia sejak lahirnya telah mempunyai enam emosi dasar yaitu : cinta, kegembiraan, keinginan, benci, sedih dan kagum. William-James dan Carl Lange menyatakan emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap pembahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respons terhadap rangsang-rangsang yang datang dari luar. Wilhelm Wundt menguraikan jenis-jenis emosi yaitu: senang – tak senang, tegang – tak tegang, dan semangat – tenang. Cannon-Bard menjelaskan bahwa persepsi terhadap objek yang dapat menimbulkan emosi diproses secara simultan oleh dua instansi yakni sistem syaraf otonom dan cerebral cortex. Schachter Singer meyakini bahwa emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis. Setiap pengalaman yang membangkitkan emosi akan diberi label didalam peta kognitif. Label-label itu kemudian dijadikan pola bagi pengalamn-pengalaman baru. Setiap stimulus yang diterima akan dinilai berdasarkan label yang telah disimpan.
3. Keadaan emosi dalam Masa Kanak-kanak Akhir berbeda dengan dalam Masa Kanak-kanak awal. Perubahan-perubahan tersebut di atas disebabkan karena pengalamannya yang lebih luas dan dengan demikian dia mempelajari reaksi-reakis lain. Oleh karena pengalaman itu, anak mengetahui bahwa ada cara-cara menyatakan emosi yang tidak disenangi oleh masyarakat. Dan oleh karena ia ingin disenangi oleh masyarakat, maka dia berusaha untuk tidak memberikan reaksi-reaksi yang tidak disenangi oleh orang lain.




DAFTAR PUSTAKA

B. Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga, 1980.
B. Hurlock, Elizabeth. Developmental Psycology. Terjemahan oleh Ridwan Max
Sijabat. Jakarta: Erlangga, 1980.
Iskandar, Junaidi. The Power of Soul for Great Health. Jakarta: PT Bhuana Ilmu
Populer, 2006.
Daradjat, Zakiyah. Ilmu Jiwa. Jakarta: Bulan Bintang, 1952.
Asruri, Muhammad. Psikologi Remaja. Jakara: Bumi Aksara, 2008.
Darwis, M. Penjelajahan Religi Psikologis Tentang Emosi Manusia dadalam
AlQur’an. Jakarta: Erlangga, 2006.
Listy, “Akhir Masa Kanak-Kanak” , Makalah disajikan dalam Psikoper Leave a
Comment, 4 November 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar